Internet Pengaruhi Kualitas Sperma Pria

Diposkan oleh inez

BEIJING - Berselancar di dunia maya memang menjadi kebutuhan yang tak terelakkan di era digital. Tapi terlalu lama berselancar di dunia maya, ternyata juga berdampak buruk bagi kesehatan.

Sejumlah peneliti di sebuah rumah sakit di Guangxi Zhuang, China, mengungkapkan terlalu banyak bermain internet di depan komputer dapat mempengaruhi jumlah dan kualitas sperma pria. Demikian dilansir TimesofIndia, Minggu (29/11/2009).

Penelitian dilakukan terhadap sperma sekira 217 sukarelawan yang merupakan mahasiswa yang kerap berselancar di dunia maya dari 19 perguruan tinggi di kawasan Guangxi Zuang. Hasilnya diketahui, sebanyak 50 persen mahasiswa tersebut memiliki jumlah sperma yang sedikit. Bahkan dapat dikategorikan 'abnormal'.

Sebelumnya para peneliti dari Standford University, California, Amerika Serikat pernah meneliti hubungan antara gelombang elktromagnetik dengan kualitas sperma. Gelombang elektromagnetik berisiko dua kali lebih besar menyebabkan penurunan kualitas sperma. Dengan demikian berlama-lama bermain internet bisa mempengaruhi kualitas sperma karena gelombang elektromagnetik yang menghubungkan internet.

"Saya hanya ingin memberi tahu pada pria dan pasangan yang mencoba untuk memiliki bayi agar mengurangi waktu di wilayah-wilayah yang memiliki gelombang elektromagnetik sebanyak mungkin," kata seorang peneliti De-Kun Li.

Sumber : http://techno.okezone.com/read/2009/11/29/56/280033/internet-pengaruhi-kualitas-sperma-pria

CIRI-CIRI WANITA HAMIL

Diposkan oleh inez

Kehamilan secara pasti hanya bisa di diagnosa oleh Dokter. Namun demikian terdapat beberapa ciri pada wanita yang merupakan tanda si dia sedang hamil.

Berikut ini, beberapa gejala dini terjadinya kehamilan pada istri anda:


1.

Tidak lagi mendapat haid atau menstruasi pada bulan berjalan. Untuk itu perlu diketahui secara pasti waktu hari pertama datangnya haid agar anda dapat mengetahui usia kehamilan dan perkiraan waktu persalinan istri anda. Walaupun demikian, perlu di ketahui bahwa haid yang tidak tepat waktu juga dapat disebabkan oleh hal-hal lain.
2.

Mual dan muntah. Akibat adanya perubahan hormon pada isitri anda. Mual muntah ini sering disebut sebagai “morning sickness” karena biasanya mual dan muntah tersebut terjadi di pagi hari pada bulan-bulan pertama kehamilan.
3.

Sering buang air kecil. Ini terjadi karena kandung kencing istri anda tertekan oleh rahim yang membesar. Keluhan beser ini biasa akan berkurang pada kehamilan setelah 12 minggu dan timbul kembali setelah kehamilan 28 minggu.
4.

Mengidam. Pada bulan pertama kehamilan, wanita hamil biasanya menginginkan makanan-makanan tertentu. Ini terjadi bulan-bulan pertama.


Tanda-tanda lain yang biasa muncul adalah adanya pembesaran payudara, puting payudara yang membesar dan berwarna gelap bahkan terkadang terasa sangat gatal dan sakit.

Setiap wanita memiliki tanda kehamilan yang sangat bervariasi. Ada yang berat dan ada juga yang bahkan tidak mempunyai keluhan sama sekali. Bila ciri-ciri kehamilan ini belum ada, maka sebaiknya anda melakukan tes lain.

Cara yang paling sering di gunakan Dokter untuk tes kehamilan adalah dengan tes urin. Tes urin kehamilan ini bisa anda lakukan sendiri dengan membeli alat test di apotik dan melakukan tes urin di rumah anda.

Test urin kehamilan dilakukan dengan mengukur kadar HCG (Human Chorionic Gonadotropin) yaitu sebuah hormon yang dihasilkan plasenta dan jumlahnya akan meningkat dalam urin dan darah selama minggu pertama setelah konsepsi.

Perhatikan instruksi yang disediakan ketika menggunakan alat tes urin ini. Hasil paling akurat di dapatkan jika tes dilakukan pada pagi hari sebab saat itu hormon HCG sangat tinggi. Dan bila anda masih ragu apakah istri anda sedang hamil atau tidak, datangi Dokter anda. Dokter dapat memastikan kehamilan istri anda dengan USG (Ultrasonografi), dengan metode ini Dokter akan memperlihatkan gambaran janin dalam kandungan istri anda.

Sumber : http://www.konseling.net/artikel_seks/mengetahui-tanda-kehamilan.htm

ASAL USUL MANUSIA DI PANDANG DARI SEGI AGAMA ISLAM

Diposkan oleh inez

Apakah sesungguhnya pandangan Islam tentang manusia? Dalam Islam manusia bukan sekedar binatang menyusui yang hanya makan,minum dan berhubungan seks, bukan juga hanya “a thinking animal”, tetapi dari itu, ia memiliki potensial pada dan dalam dirinya yang menjadikannya dalam bahasa al-Qur’an unik, berbeda dari yang lain. Pandangan Islam mengenai kehidupan manusia di bumi ini amatlah menyeluruh (comprehensive) dalam artian bahwa kehidupan di dunia ini merupakan sebagian dari kehidupan di akhirat. Tindakan di dunia akan mempengaruhi kehidupannya di akhirat. Dalam Islam manusia merupakan khalifah Allah di muka bumi yang dibekali dengan berbagai hak, dan dibebani dengan berbagai kewajiban. Juga dalam Islam, manusia merupakan makhluk yang terdiri dari ruh atau jiwa dan raga. Manusia menurut Islam, merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang diberi ruh Ilahi dan dibuat dari mani. Kata ruh adalah soul dalam bahasa Inggris yang juga sama dengan jiwa.
Bahkan, berbagai ayat dalam kitab suci umat Islam mengungkapkan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan yang seimbang antara dunia dan akhirat, yakni keseimbangan kebahagiaan spiritual dan material sebagaimana yang sering diucapkan umat Islam dalam berdoa: “Ya Tuhan berikanlah aku kebahagian dunia dan juga kebahagiaan akhirat dan jauhkanlah aku dari api neraka”. Ayat di atas dan doa tersebut menunjukkan bahwa dalam Islam manusia itu terdiri dari ruh dan kebahagiaan ruh ini tercapai melalui ibadah. Manusia juga dalam Islam percaya mengenai apa yang tidak terlihat dengan indera penglihatan. Dengan kata lain, manusia Islam menyakini adanya kehidupan di akhirat. Ini merupakan keyakinan mereka bahwa ada kehidupan spiritual di akhir zaman. Terlalu banyak kiranya ayat-ayat dalam kitab suci al-Qur’an dimana Tuhan berfirman mengenai kejadian & asal usul manusia dari jiwa dan raga,antara lain:
• Surah ke-23, al-Mu’minun ayat 12-15 yang terjemahannya sebagai berikut:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) tanah.”(ayat 12)
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (ayat 13)
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk lain). Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”(ayat 14)
“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu benar-benar akan mati.”(ayat 15)
• Surah ke-32 al-Sajdah ayat 7-9 yang terjemahannya sebagai berikut:
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.”(ayat 7)
“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).”(ayat 8)
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) kamu sedikit yang bersyukur.”(ayat 9)
• Surah ke-37 al-Shaffat ayat 11 yang terjemahannya sebagai berikut:
“.....Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.”
• Surah ke-17 al-Isra ayat 85 yang terjemahnya sebagai berikut:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhan-Ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
• Surah ke-76 al-Insan ayat 72 yang terjemahannya sebagai berikut:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur (antara benih laki-laki dengan perempuan) yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”
• Surah ke-86 al-Thariq ayat 5-7 yang terjemahannya sebagai berikut:
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan?”(ayat 5)
“Dia diciptakan dari air yang terpancar.”(ayat 6)
“Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”(ayat 7)
Kehidupan manusia di alam ini diawali dengan tidak ada,kemudian ada (lahir) dan terakhir tidak ada lagi (mati) (lihat al-Qur’an surah ke-7 al-A’raf ayat 25). Mengenai lamanya hidup manusia didunia tidak perlu kita perbincangkan di sini,sebab sulit untuk memberikan jawaban yang pasti tentang hal tersebut.
Dapat dikemukakan bahwa filsafat Islam pada umumnya, memandang manusia terdiri dari dua substansi yang bersifat materi (badan) dan substansi yang bersifat immateri (jiwa) dan hakikat dari manusia adalah substansi immaterialnya seperti ditulis oleh Imam al-Ghazali mengemukakan bahwa essensi manusia adalah jiwanya:
“Adanya jiwa dalam dirinya membuat manusia itu menjadi ciptaan Tuhan yang unggul. Dengan jiwa itu pula manusia dapat mengenal Tuhannya dan sifat-sifatNya bukan dengan organ tubuh lainnya. Dengan jiwa itu jualah, manusia dapat mendekatkan diri dengan tuhan dan berusaha mewujudkan. Jadi, jiwa adalah raja dalam diri manusia dan anggota tubuh lainnya adalah unsur-unsur yang melaksanakan perintah tuhan. Jiwa itu diterima oleh tuhan apabila dia tetap bebas dari hal-hal selain dari tuhan. Apabila ia terikat pada hal-hal yang bukan dengan tuhan, dia telah menjauh darinya. Jiwa manusialah yang akan dipertanyakan dan disiksa.
Hal ini dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dan juga dikutip oleh Dr. Muhammad Nasir Nasution dalam bukunya, ”Manusia menurut al-Ghazali”. Ulasan al-Ghazali juga mengungkapkan bahwa akal bukanlah daya yang terpenting dalam kehidupan keberagamaan manusia karena usaha penyempurnaan dan iman diri bukanlah proses intelektual melainkan penajaman dari daya intuisi dan emosi. Yang penting adalah menjaga keseimbangan antara daya-daya tersebut. Mungkin yang dimaksud disini ialah apabila seseorang mempertajam atau meningkatkan daya fisiknya, sebaiknya juga ia menambah daya nalar dan imannya sehingga dia menjadi manusia yang utuh”.
Esensi manusia atau jiwanya, masih dalam ulasan al-Ghazali merupakan unsur immaterial yang berdiri sendiri dan juga adalah subjek yang mengetahui disebut juga subjek yang sadar. Al-Ghazali memberi contoh bagai seorang manusia yang menghentikan kegiatannya, masih tetap sadar walaupun dia berada dalam keadaan tenang dan tidak berbuat apapun. Maka aktifitas fisiknya menghilang tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang tidak hilang, yaitu kesadaran akan dirinya. Dia sadar bahwa ia ada; bahkan ia sadar bahwa ia sadar. Inilah yang dapat dipahami dari istilah,” Subjek yang mengetahui ”. Manusia sadar dan mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk dan ia mampu mengoreksi semua unsur-unsur tersebut, apabila ia berbuat salah, unsur jiwa dalam dirinya akan menyadarkannya karena ia adalah subjek yang mengetahui.
Substansi immaterial atau jiwa itu juga disebut al-nafs dalam islam. Imam Ghazali menguraikan al-nafs atau nafsu sebagai berikut: “Makna pertama ialah “hasrat:” atau diri yang rendah. Hasrat merupakan kata yang menyeluruh yang terdiri dari ketama’an, amarah dan unsur-unsur keji lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda,” Musuh anda yang terbesar adalah nafsu anda yang terletak dikedua belah sisi anda”. Makna kedua dari Nafs adalah jiwa seperti dijelakan terdahulu. Apabila nafsu menjadi tenang dan telah bebas dari amarah dan birahi dia disebut nafsu Mutmainah atau jiwa yang tenang dan aman, seperti difirmankan oleh Allah SWT,” O..jiwa yang tenang, kembalilah ketuhanmu dengan tenang dan menenangkannya (89-27)”. Dalam ma’na yang pertama nafsu bersekutu dengan setan. Apabila nafsu sudah tidak tenang dia tidak akan sempurna; ia disebut nafsu Lawamah atau jiwa yang ternoda dan jiwa yang demikian mengabaikan tugas-tugas ilahinya. Apabila jiwa menyerahkan diri kepada setan, ia disebut nafsu Ammarah atau nafsu yang dikuasai setan”.
Al-nafs mempunyai daya-daya dan daya berfikir terkandung didalamnya. Kesempurnaan manusia diperoleh dengan jalan mempertajam daya berfikir ini.
Bila kita bandingkan pandangan al-Ghazali dan Koentjaraningrat mengenai manusia, maka terlihat kesamaan yang dalam. Tentu Koentjaraningrat tidak mengatakan rujukannya adalah al-Ghazali atau al-Qur’an dan Hadits. Istilah yang digunakan oleh Koentjara ningrat adalah kepribadia individu. Kepribadian, menurut Koentjaratningrat, dalam bukunya: Pengantar Antropologi 1, adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seorang individu yang berada pada setiap individu (Koentjaraningrat 1996, hlm. 99 ). Dalam buku yagn sama Koentjaraningrat juga menguraikan bahwa ada beberapa unsur dalam kepribadian. Kalau al-Ghazali mengemukakan bahwa manusia memili beragam daya, yakni daya fikir, daya fisik, daya rasa dan daya moral. Maka Koentjaraningrat, Abraham Marslow, Kelvin S. Hall dan Gardner Lindsay menyebut daya-daya tersebut sebagai unsur-unsur akal dan jiwa yang melangkapi kepribadian manusia, seperti unsur pengetahuan, unsur perasaan, unsur motivasi. Hanya istilah yang berbeda; al-Ghazali menggunakan perkataan “daya” atau “al-nafs” sedangkan berbagai pakar dari timur dan barat tersebut terdahulu menyebutnya sebagai unsur-unsur dalam diri manusia.

PENGERTIAN TERAPI PADA AUTISME

Diposkan oleh inez

Terapi dan stimulasi mana yang diperlukan? Kita kembali kepada kenyataan bahwa terapi bersifat individual dan harus disesuaikan dengan umur, fase perkembangan dan gejala yang ditemukan. Tidak ada metode yang 100% paling baik untuk semua anak. Para terapis yang menggunakan berbagai metode berlainan harus bekerjasama dengan baik. Bila kasus tidak mengalami kemajuan dengan satu metode terapi, harus dilakukan terapi kombinasi atau dicari cara terapi yang lain.

Apakah peran obat-obatan? Karena penyebab belum diketahui dengan pasti, obat biasanya hanya ditujukan untuk menghilangkan gejala yang sangat mengganggu. Contoh paling klasik adalah perilaku self-injurious yang sangat berbahaya karena anak mencoba melakukan hal yang menyakiti atau merusak diri sendiri misalnya membenturkan kepala ke tembok atau lantai, memukul kepala dengan sangat keras, atau menggigit anggota tubuhnya. Dua puluh persen penyandang autisme mengalami kejang atau epilepsi. Hal ini juga harus mendapat obat yang tepat. Ini berarti bahwa terapi obat untuk penyandang autisme bersifat sangat individual. Bila dokter menganggap bahwa anak memerlukan pengobatan khusus, sebaiknya hal tersebut didiskusikan dengan orang tua. Orang tua harus mendapat penjelasan mengapa perlu diberikan, bagaimana cara mengkonsumsi obat, efek samping yang mungkin terjadi dan lain-lain. Dokter juga harus menghargai pendapat orang tua bila mereka tidak menginginkan terapi obat-obatan.

Dalam bidang yang masih merupakan grey area, dokter dan orang tua harus memahami bahwa tidak semua publikasi kedokteran atau publikasi lain adalah benar atau sahih. Dokter harus mempelajari teknik menilai Evidence-based medicine sehingga mereka dapat menentukan apakah suatu publikasi memang benar atau kurang benar, dan mendiskusikan hal tersebut dengan orang tua. Selanjutnya, karena ilmu kedokteran belum dapat memberi jawaban yang pasti, muncul berbagai terapi komplementer dan alternatif. Bila terapi komplementer dan alternatif ini memang merupakan hasil suatu penelitian yang sahih, pasti akan di adopsi oleh dunia kedokteran sebagai terapi standar. Dokter dan orang tua harus waspada terhadap laporan anekdotal, testimoni, serta berbagai klaim berlebihan mengenai kesembuhan, terutama bila teknik pengobatan tersebut memerlukan kepatuhan, waktu, enerji, dan biaya yang berlebihan.

Bila keluarga sudah memutuskan untuk memberikan terapi komplementer atau alternatif, lakukanlah diskusi dengan dokter anda. Barangkali dokter dapat memberi bantuan mengenai bagaimana cara mengevaluasi terapi, menentukan hasil yang harus diperoleh, menentukan kemungkinan efek samping dan menentukan apakah terapi dapat diteruskan karena bermanfaat atau dihentikan karena tidak bermanfaat atau ada efek samping. Berilah kesempatan kepada dokter untuk mempelajari terapi alternatif tersebut dan mendiskusikannya dengan anda.

Akhirnya, khusus dalam bidang autisme tidak ada yang dapat mengklaim diri sebagai pakar, tidak ada juga yang dapat mengklaim bahwa autisme milik suatu subspesialisasi tertentu. Kerjasama antara dokter, terapis dan orang tua sangat penting demi kemajuan anak, jangan saling merasa benar sendiri atau saling menyalahkan.

• Pencegahan Autis Pada Anak - Autis adalah gangguan perkembangan pervasif
• Deteksi Dini & Skrining Autis - Informasi praktis deteksi dini autisme
• Kesulitan makan pada penyandang autis - mengapa anak autis sulit makan dan apa penyebabnya?
• Deteksi Dini ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders) - ADHD adalah gangguan perilaku pada anak yang terjadi suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku
• Menyikapi Kontroversi Autisme dan Imunisasi MMR -
• Kekhawatiran Terhadap Thimerosal dan Autisme -
• Alergi Makanan, Diet dan Autisme-

Kutipan dari tulisan Dr. Hardiono D. Pusponegoro Spa(K)
[Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia]

KEUNIKAN AUTISME

Diposkan oleh inez

Tiap individu (anak maupun dewasa) yang terkena autism adalah individu dengan keunikan pribadi serta kombinasi perilaku yang membuat mereka berbeda dengan individu normal. Beberapa anak mungkin hanya menunjukkan gejala ringan dalam keterlambatan berbahasa tetapi lebih mempunyai problem dalam ber-sosialisasi atau berteman. Anak ini menjadi sulit untuk memulai atau meneruskan pembicaraan. Baginya berkomunikasi adalah berbicara satu arah dan hanya membicarakan mengenai hal-hal monoton yang sangat dia sukai tanpa memperdulikan apakah lawan bicaranya menyukainya atau tidak.

Tiap penyandang autism sangat berbeda dalam mengolah dan memberikan respon pada informasi yang ia dapat sehingga materi untuk terapi dan proses belajar mengajar haruslah dibuat secara khusus dengan mengacu pada kelebihan dan kekurangan masing-masing anak. Kemampuan anak autism dapat berubah ubah dari hari kehari dikarenakan sulitnya berkonsentrasi atau mengolah informasi dan timbulnya rasa takut. Pada hari pertama anak dapat terlihat baik dalam mempelajari sesuatu tetapi pada hari berikutnya mendapat kesulitan belajar. Perubahan yang terjadi disekitarnya serta rasa takutnya dapat langsung mempengaruhi kegiatan belajarnya.

Anak autisme dapat mempunyai kemampuan ingatan dan bicara secara normal ataupun berada diatas normal tetapi sangat sulit untuk berpartisipasi dan berteman dengan rekan sebayanya. Penderita autisme yang agak parah dihimbau agar mendapat bantuan intensif untuk dapat mempelajari kemampuan dasar dalam menjalani kegiatan sehari harinya.
Penyandang autisme (anak dan dewasa) dapat pula terlihat menarik, dapat menatap mata lawan bicara, tersenyum, tertawa ataupun menunjukkan perasaan emosinya dalam tahapan tahapan tertentu. Seperti anak normal lainnya mereka dapat menanggapi keadaan sekelilingnya secara positif ataupun negatif. Autisme dapat mempengaruhi cara mereka menanggapi keadaan dan dapat membuat mereka sulit untuk mengontrol reaksi badan dan pikiran mereka. Kadangkala kelainan dalam kemampuan melihat, motorik dan pengolahan informasi membuat mereka sulit menatap mata lawan bicaranya. Beberapa penyandang autisme lebih suka menggunakan penglihatan sampingnya daripada menatap langsung lawan bicaranya. Kadangkala sentuhan atau kedekatan badan orang sekitarnya menjadi sangat menyakitkan sehingga membuat mereka menjauhi bahkan terhadap anggota keluarga sekalipun. Rasa cemas, takut dan bingung dapat menjadikan mereka terlihat seperti kehilangan akal sehat dalam menghadapi kegiatan sehari hari.

Dengan terapi yang benar dan efektif, beberapa kelainan yang disebabkan oleh autisme dapat berubah ataupun sembuh dalam jangka waktu tertentu. Kesulitan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi akan menetap seumur hidup. Kelainan di bidang lainnya dapat berkurang atau berubah sejalan dengan bertambahnya usia dan pendidikan. Mereka dapat mulai menggunakan kemampuannya dalam keadaan normal dan berpartisipasi dalam aktifitas dan hobi yang lebih luas. Banyak penyandang autisme dapat menikmati kehidupan mereka dan memberikan kontribusi yang berarti kepada masyarakat luas. Banyak penyandang autisme berhasil dalam mempelajari dan merubah kelainan yang mereka miliki.

Sebagai contoh yang terjadi di Amerika Serikat, melalui dukungan pemerintah, program pendidikan dan terapi terhadap penyandang autisme dikembangkan melalui jaringan network secara luas (chapter) diseluruh Amerika dengan dukungan profesional, dokter ahli dan sukarelawan. Walaupun tidak ada orang yang dapat meramalkan masa depan mereka, terbukti melalui program tersebut, beberapa penyandang autisme dewasa dapat berkerja mandiri didalam masyarakat seperti mengemudi mobil, mendapatkan gelar sarjana ataupun menikah. Beberapa diantaranya dapat pula menjadi mandiri didalam masyarakat dan hanya memerlukan sedikit bantuan ketika menghadapi tekanan hidup sedangkan yang lainnya sangat bergantung kepada bantuan anggota keluarga dan dokter ahli. Penderita autisme di Amerika aktif membantu sesamanya dalam membuat buku, memberikan ceramah dan muncul secara khusus di televisi membahas keberadaan mereka apa adanya.

Orangtua penyandang autisme dapat menjadi sangat stress dikarenakan perilaku anak mereka dan usaha mereka dalam mencari bantuan penyembuhan, kesulitan finansial dan kurangnya informasi dan kesadaran mengenai adanya autisme menyebabkan terkucilnya para penyandang autisme sehingga dapat membuat hidup mereka menjadi menderita. Banyak orangtua yang kurang menyadari bahwa anak mereka penyandang autisme sehingga mencari alternatif pengobatan sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter yang benar benar ahli menangani autisme. Beberapa diantaranya membawa anak mereka ke paranormal untuk mencek apakah anak mereka terkena roh jahat.

PENDEKATAN BEHAVIORISTIK

Diposkan oleh inez

Terapi perilaku [behavior therapy] dan pengubahan perilaku [behavior modification] atau pendekatan behavioristik dalam psikoterapi, adalah salah satu dari beberapa “revolusi” dalam dunia pengetahuan psikologi, khususnya psikoterapi. Pendekatan behavioristik yang dewasa ini banyak depergunakan dalam rangka melakukan kegiatan psikoterapi dalam arti luas atau konseling dalam arti sempitnya, bersumber pada aliran behaviorisme. Aliran ini pada mulanya tumbuh subur di Amerika dengan tokohnya yang terkenal ekstrim, yakni John Broadus Watson, suatu aliran yang menitik beratkan peranan lingkungan, peranan dunia luar sebagai factor penting di mana seseorang dipengaruhi, seseorang belajar. Pada abad ke-17, dunia pengetahuan Filsafat ditandai oleh dua kubu besar yakni kubu “empiricism” [physical science] dan kubu “naturalism” [biological science]. Pada akhir abad yang lalu, mempengaruhi lahirnya aliran behaviorisme dengan pendekatan-pendekatannya yang kemudian menjadi terkenal dengan terapi perilaku [behavior therapy] dan perubahan perilaku [behavior modification].
Menurut Franks [1969] yang dikutip oleh Masters [1987] ada tiga hal yang sangat berpengaruh terhadap munculnya terapi perilaku, ialah :
1. Hasil penelitian dan tulisan dari I.P. Pavlov [1927,1928] mengenai percobaan- percobaan dan hasilnya yang telah dilakukan dengan mempergunakan hewan, yang sekarang dikenal dengan kondisioning-klasik.
2. Hasil penelitian dan tulisan dari E.L. Thorndike mengenai proses belajar dengan hadiah yang mengahsilkan hukum efek [law of effect] [1898,1911,1913] dan yang sekarang dikenal dengan kondisioningaktif [operant] dan perilaku instrumental.
3. Hasil penelitian dan tulisan dari J.B. Watson dengan rekan-rekannya [Jones,1924; Watson,1916; Watson & Rayner,1920] yang mengamalkan teknik dasar dari apa yang telah dilakukan oleh Pavlov, diamalkan untuk menghadapi seseorang dengan kelainan kejiwaan. Dari Watson & Rayner ini dikenal percobaan klasik mengenai kondosioning operan atau kondisioning “aktif”.
1. TERAPI PERILAKU, PENGUBAHAN PEILAKU DAN PSIKOTERAPI
Sebagai salah satu teknik psikoterapi, terapi perilaku realtif masih sangat muda, baru dipergunakan sejak 30 tahun yang lalu. Dalam kaitan dengan pengubahan perilaku [behavior modification], terdapat dua pendapat mengenai terapi perilaku. di dalam perkembangannya, terapi perilaku sebagai metode yang dipakai untuk mengubah perilaku atau arti umumnya sebagai salah satu teknik psikoterapi, menurut corey[1991] terdiri dari tiga tahap :
• Tahap pertama adalah tahap kondisioning klasik pada mana perilaku yang baru, dihasilkan dari individu secara pasif. Tokoh-tokoh pada kelompok ini ialah : Skinner ( Science and Human Behavior); A. Lazarus (Behavior Therapy and Beyond) dan Eysenck (Behavior Therapy and The Neurosis).
• Tahap kedua adalah tahap kondisioning aktif [operant], dimana perubahan-perubahan di lingkungan yang terjadi akibat sesuatu perilaku, bisa berfungsi sebagai penguat-ulang [reinforcer] agar sesuatu perilaku bisa terus diperlihatkan, sehingga kemungkinan perilaku tersebut akan diperlihatkan terus dan semakin diperkuat. Tokoh utama pada tahap kedua ini adalah Skinner.
• Tahap ketiga adalah tahap kognitif. Sebagaimana diketahui bahwa munculnya terapi perilaku dengan cirri-ciri khas yang bertentangan dengan pendekatan psikoanalisis, psikodinamik, mengesampingkan konsep berfikir, konsep sikap dan konsep nilai.
Menurut Franks (1987) yang dikutip oleh Corey bahwa terapi kognitif behavioristik sekarang berkembang sebagai bagian dari aliran terapi perilaku. Terapi perilaku yang tidak dibedakan dengan terapi perubahan perilaku, dirumuskan oleh Craighead, Kazdin,Mahoney (1976) sebagai berikut :
• Penggunaan seperangkat prosedur klinis secara luas yang deskripsi dan rasionale-nya didasarkan pada hasil penelitian psikologis dan eksperimental.
• Pendekatan analisis-fungsional dan eksperimental terhadap data klinis, didasarkan pada hasil yang objektif melalui perhitungan-perhitungan.

Perumusan ini dengan jelas menunjukan bahwa terapi perilaku dan terapi pengubahan perilaku, mendasarkan pada pendekatan analisis perilaku dan penerapannya. Dari hal inilah kemudian mendorong Skinner pada tahun 1958 mendirikan Journal of Experimental Analysis of Behavior [JEAB].
Bertumpu pada hasil penelitian empiric dan eksperimental terhadap sesuatu gejala perilaku, kemudian berkembang istilah pengubahan [modifikasi] yang kemudian dipakai sebagai terminology yang oleh sebagian ahli disamakan dengan terapi perilaku, dengan alasan bahwa dasar perubahannya kira-kira sama. Kazdin(1978) merumuskan pengubahan perilaku sebagai: pengalaman dasar riset dari teori psikologi eksperimental untuk mempengaruhi perilaku dengan tujuan mengatasi masalah-masalah pribadi dan sosial dan meningkatkan fungsinya. Sundel&Sundel (1982) merumuskan sebagai: pengalaman dari dasar dan teknik yang berasal dari analisis ekperimental terhadap perilaku dan dalam arti luasnya terhadap masalah-masalah yang timbul pada manusia.
Terapi perilaku dirumuskan oleh Masters, et al (1987) sebagai: Teknik khusus yang mempergunakan dasar psikologi [khususnya proses belajar] untuk mengubah perilaku seseorang secara kuantitatif. Kata perilaku diinterpretasikan luas, meliputi respons yang tidak terlihat seperti emosi yang dapat diketahui secara khusus dan yang ada kaitannya dengan perilaku yang terlihat. Menurut Masters, et al (1987), teknik yang dipakai dalam terapi perilaku adalah :
• Relaksasi
• Pengebalan [desensitiasasi] sistematik
• Latihan kepekaan
• Peniruan melalui model
• Kondisioning aktif [operant]
• Penguasaan diri [termasuk “biofeedback”]
• Kejenuhan
• Kondisioning melalui penolakan [aversion]
Menurut Masters, et al (1987) ada beberapa paham dasar pada terapi perilaku, yakni :
• Dihubungkan dengan psikoterapi, terapi perilaku secara relative lebih memusatkan pada perilaku itu sendiri dan kurang memperhatikan factor penyebab yang mendasarinya. Khususnya psikoanalisi yang bertumpu pada keyakinan bahwa gejala yang muncul atau terlihat harus dihilangkan dengan menghilangkan sumber penyebabnya, akarnya.
• Perilaku manusia dalam batas tertentu diperoleh melalui proses belajar, sama halnya dengan setiap perilaku lain. Pada terapi perilaku, memperhatikan secara khusus, bagaimana lingkungan mempengaruhi perilaku, antara lain dilihat dari sudut teori dan proses belajar.
• Dasar-dasar psikologi, khususnya dasar teori dan proses belajar, dapat dipergunakan secara sangat efektif dalam mengubah perilaku malasuai. Namun tidak berarti bahwa semua perilaku malasuai bisa diubah dengan dasar pendekatan bhavioristik karena factor biologic masih tetap dianggap.
• Terapi perilaku menentukan dan merumuskan tujuan khusus terapi. Meskipun tidak mengubah kepribadian secara keseluruhan, tetapi dengan menghilangkan respon-respon yang malasuai [sebagai sumbernya], diharapkan akan mempengaruhi peibadinya sebgai keseluruhan [totalitas].
• Terapi perilaku menolak teori klasik mengenai aspek dasar kepribadian [trait theory]. Sebagaimana diketahui bahwa aspek dasar kepribadian adalah predisposisi untuk melakukan sesutau perilaku secara sama pada macam-macam situasi. Ada pengaruh dari situasi sebgai sumber perangsangan [stimulus] yang mempengaruhi jawaban secara berbeda pula.
• Terapis perilaku menyesuaikan metode terapinya dengan masalah yang ada pada klien.dalam terapi perilaku tidak lagi berlaku konsep metode tunggal dalam menghadapi persoalan yang dialami pasien.sebaliknya prosedur pelaksanaan terapi perlu disesuaikan dengan persoalan yang ada dan kondisi khusus pribadinya.
• Terapi perilaku memusatkan pada keadaan sekarang.dari sudut pendekatan psikodinamok yang menitik beratkan terjadinya pemahaman terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat diyakininya akan mempunyai efek terapeutik.
• Terapis perilaku menilai hasil-hasil yang diperoleh secara empirik,merupakan dukungan yang besar dalam mempergunakan macam-macam teknik.meskipun hasil objektif melalui penelitian-penelitian,namun ada tingkatan-tingkatan misalnya:pada kemantapan metodologi yang dipakai,sehingga kuantifikasi saja,tidak selalu menjamin akan adanya metodologi yang mantap yang menghasilkan sesuatu hasil penelitian.

Corey(1991)Merumuskan Karakteristik dari pendekatan Behavioristik.
1 Terapi perilaku didasarkan pada hasil eksperimen yang diperoleh dari pengalaman sistematik dasar-dasar teori belajar untuk membantu seseorang mengubah perilaku malas.
2 Terapi ini memusatkan terhadap masalah yang dirasakan pasien sekarang ini dan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi,sebagai sesuatu yang berlawanan,di mana ada hal-hal yang menentukan dalam sejarah perkembangan seseorang.
3 Terapi ini menitik beratkan perubahan perilaku yang terlihat sebagai kriteria utama,sehingga memungkinkan melakukan penelitian terhadap terapi meskipun proses kognitifnya tidak bisa diabaikan.
4 Terapi perilaku merumuskan tujuan terapi dalam terminologi yang kongkret dan objektif,agar memungkinkan dilakukan intervensi untuk mengulang apa yang pernah dilakukan.
5 Terapi perilaku pada umumnya bersifat pendidikan.

►Terapi perilaku dalam arti sempitnya adalah Psikoterapi.
►Eysenck yang dikenal sebagai salah seorang penentang yang gigih terhadap psikoanalisis,pada tahun 1959,(dalam Eysneck,1987)menunjukan 10 perbedaan antara psikoterapi dengan terapi perilaku,yakni:
PSIKOTERAPI TERAPI PERILAKU
1 Mendasarkan pada teori yang tidak Mendasarkan pada perumusan teori
konsisten,tidak dirumuskan dengan tepat yang tepat dan konsisten dan dapat
dalam bentuk yang pasti. diuji secara deduktif.
2 Diperoleh dari observasi klinis yang Diperoleh dari hasil study
dibuat tanpa pengontrolan melalui eksperimental khususnya dibentuk
observasi atau eksperimen. untuk menguji teori dasar dan
deduksi-deduksinya.
3. Menganggap gejala sebagai perwujudan Menganggap gejala sebagai respon
dari sebab-sebab yang tidak disadari. terkondisi yang tidak sesuai.
4. Menganggap gejala sebagai tanda Menganggap gejala sebagai proses
adanya penekanan(represi) belajar yang salah.
5. Percaya munculnya sesuatu gejala Munculnya suatu gejala ditentukan
ditentukan oleh mekanisme perbedaan perorangan yang bisa di
pertahanan diri. kondisioningkan dan memiliki
otonomi yang labil.
6. Semua perlakuan terhadap pasien yang Semua perlakuan terhadap pasien
mengalami kelainan neurotik harus yang mengalami kelainan neurotik
dilihat sejarahnya. tidak harus dilihat sejarahnya karena
tidak relevan.
7. Kesembuhan diperoleh dengan Kesembuhan diperoleh dengan
memperlakukan dinamika-dinamika dengan memperlakukan gejala itu
yang mendasarinya tidak dengan sendiri,yakni dengan membuat
memperlakukan gejala itu sendiri. respon terkondisi yang tidak sesuai
menjadi sesuatu yang menjenuhkan
dan membentuk respon terkondisi
terkondisi yang diharapkan.
8. Interpretasi terhadap gejala,mimpi, Interpretasi bahkan jika tidak
tindakan adalah elemen yang penting subjektif atau tidak melakukan
dalam terapi. kesalahan sekalipun,tidak relevan.
9. Terapi terhadap gejalanya justru Terapi terhadap gejalanya
menyebabkan minculnya gejala yang baru. menyebabkan adanya kesembuhan
secara menetap dengan adanya
kemampuan menghilangkan respon-respon yang berlebihan melalui proses penjenuhan dengan sendirinya
10. Transferens adalah hal yang penting Hubungan pribadi tidak penting
untuk kesembuhan pasien neurotik. untuk kesembuhan penderita neurotik,sekalipun hal ini bisa berguna pada keadaan tertentu.


2. PANDANGAN TERHADAP KONSEP MANUSIA.
Para ahli psikologi behavioristik memandang manusia tidak pada dasarnya baik atau jahat.Para ahli yang melakukan pendekatan behavioristik,memandang manusia sebagai pemberi respons(responder),sebagai hasil dari proses kondisioning yang telah terjadi.

►Dustin & George(1977),yang dikutip oleh George & Cristiani(1981),mengemikakan pandangan behavioristik terhadap konsep manusia,yakni:
1. Manusia di pandang sebagai individu yang pada hakikatnya bukan individu yang baik atau yang jahat,tetapi sebagai individu yang selalu berada dalam keadaan sedang mengalami,yang memiliki kemampuan untuk menjadi sesuatu pada semua jenis perilaku.
2. Manusia mampu mengkonseptualisasikan dan mengontrol perilakunya sendiri.
3. Manusia mampu memperoleh perilaku yang baru.
4. Manusia bisa mempengaruhi perilaku orang lain sama halnya dengan perilakunya yang bisa dipengaruhi orang lain.

►Ivey,et al(1987) mengemukakan bahwa pernah para pendukung pendekatan behavioristik merumuskan manusia sebagai manusia yang mekanistik dan deterministik,dimana manusia dianggap bisa dibentuk sepenuhnya oleh lingkungan dan sedikit memiliki kesempatan untuk memilih.Namun pendekatan behavioristik yang baru,menitikberatkan meningkatnya kebebasan dan pilihan melalui pemahaman terhadap dasar-dasar perilaku seseorang.
►Corey(1991),mengemukakan bahwa pada terapi perilaku,perilaku adalah hasil dari belajar.Kita semua adalah hasil dari lingkungan sekaligus adalah pencipta lingkungan.tidak ada dasar yang berlaku umum bisa menjelaskan semua perilaku.karena setiap perilaku ada kaitanya dengan sumber yang ada di lingkungan yang menyebabkan terjadinya sesuatu perilaku tersebut.
►Albert Bandura(1974,1977,1986) yang terkenal sebagai tokoh teori sosial-belajar,menolak suatu konsep bahwa manusia adalah pribadi yang mekanistik dengan model perilakunya yang deterministik.Pengubahan(modifikasi)perilaku bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang agar jumlah respon akan lebih banyak.

3.TUJUAN TERAPI PERILAKU.
Tujuan umum dari suatu terapi perilaku ialah membentuk kondisi baru untuk belajar,karena melalui proses belajar dapat mengatasi masalah yang ada.Mengenai tujuan terapi perilaku,Corey(1991)mengingatkan ada 2 konsepsi yang salah:
1. Bahwa tujuan tarapi adalah memindahkan gejala yang menjadi masalah dan karena itu akan muncul gejala yang baru,karena akar dari persoalannya tidak hilang.Hal ini dinilai tidak benar,karena terapi memusatkan perhatian pada usaha menghilangkan perilaku yang tidak sesuai denag perilaku yang sesuai.perhatian tertuju pada perilaku yang terjadi pada saat sekarang dan apa yang bisa untuk mengubahnya.
♥ Para terapis perilaku seperti Kazdin & Wilson(1978);Sloane et al(1975) membuktikan melalui penelitianya bahwa pemindahan gejala(symptom substitution)ternyata tidak ada.maka hal ini menampik kritik mengenai hasil yang diperoleh dengan terapi sekaligus menghilangkan keragu-raguan mengenai hal tersebut.
2. Konsepsi lain yang salah ialah bahwa tujuanm pasien atau klien ditentukan atau dipaksakan oleh terapisnya.padahal tujuan atau konsepsi yang baru melibatkan pasien atau klien(aspek kognitifnya)untuk ikut menentukan pilihan apa sasaran atau tujuan yang diinginkan.Hal ini jelas dirumuskan oleh G.T.Wilson(1989)(dalam Corey,1991).
Jika tujuan terapi dirumuskan dengan jelas,pasien atau klien akan bisa memperlihatkan kerja samanya dalam ikut mengarahkan tujuan dari terapi.kecuali itu dengan perumusan tujuan yang jelas,memungkinkan dilakukan evaluasi terhadap hasilnya.
Urutan dari pemilihan dan perumusan tujuan terapi,diberikan oleh Cormier & Cormier(1985)yang dikutip oleh Corey(1991)sebagai berikut:
1. Terapis menjelaskan tujuan dari terapi
2. Pasien atau klien menunjukkan secara khusus perubahan positif yang diinginkan sebagai hasilnya.
3. Terapis bersama dengan pasien atau klien menentukan apakah perubahan dari tujuan terapi yang telah dirumuskan,dimiliki oleh pasien atau klien.
4. Keduanya bersama-sama menjajaki apakah tujuan terapinya realistik.
5. Keduanya membahas kemungkinan keuntungan atau kerugian yang akan diperolehnya dari tujuan terapi.

Corey(1991) meringkas tujuan dari terapi perilaku sebagai:secara umum untuk menghilangkan perilaku tidak sesuai dan belajar berperilaku lebih efektif.memusatkan perhatian pada faktor yang mempengaruhi perilaku dan memahami apa yang bisa dilakukan terhadap perilaku yang menjadi masalah.
Pasien atau klien memiliki peran aktif dalam menentukan tujuan terapi dan melakukan penilaian bagaimana tujuan-tujuan dapat dicapai.
Ivey et al(1987)meringkas tujuan terapi perilaku sebagai berikut:untuk menghilangkan perilaku dan kesalahan yang telah terjadi melalui proses belajar dan menggantikan dengan pola perilaku yang lebih sesuai.arah perubahan perilaku secara khusus ditentukan oleh pasien atau klien.
Tujuan terapi perilaku dengan orientasi ke arah kegiatan konseling,menurut George & Cristiani(1981):
1. Mengubah perilaku tidak sesuai pada klien
2. Membantu klien belajar dalam proses pengambilan keputusan secara lebih efisien.
3. Mencegah munculnya masalah dikemudian hari.
4. Memecahkan masalah perilaku khusu yang diminta oleh klien.
5. Mencapai perubahan perilaku yang dapat dipakai dalam kegiatan kehidupannya.

4. TEKNIK TERAPI PERILAKU
Gejala perilaku yang menunjukan adanya kekurangan ditambah sebaliknya gejala prilaku yang berlebihan dikurangi agar dicapai keadaan seimbang, keadan harmonis. Gejala tersebut di yakini sebagai suatu yang muncul melalui proses belajar, sehingga untuk mengubah gejala prilaku yang lama atau untuk mempeoleh gejala prilaku yang baru, makanya proses belajar ini diubah, diperbarui dan di arahkan. Dalam berbagai teknik terapi prilaku, keadaan rileks yang di lakukan melalu berbagai prosedur relaksasi, dianggap sebagai dasar penting yang harus di lakukan terlebih dahulu.

1. RELAKSASI
Keadaan relaks adalah keadaan pada mana seseorang berada dalam keadaan pada mana seseorang dalam keadaan tenang, dalam suasana emosi yang tanang. Untuk mencapai keadaan seperti ini ,dierlukan suatu teknik melalui berbagai prosedur antara lain prosedur aktif dan prosedur pasif.
Prosedur teknik Pasif dikemukakan oleh Johannes Schultz adalah untuk seseorang dapat menguasai munculnya emosi yang bergelora dikenal sebagai latihan Otogenik (Autogenictraining). Pasien tidak lag tergantug kepada terapisnya ,tetapi melalui teknik sugesti diri (Autosugesstion technique), sesorang dapat melakukan sendiri perubahan kefaalan di dalam dirinya sendiri, juga bisa “mengatur” pemunculan-pemunculan dari emosinya pada tingkatan maksimal yang dikehendaki
Pada tahun 1938 Edmund Jacobson membuat tekhnik relaksasi yang disebut sebagai tekhnik atau latihan relaksasi progresif (progresif relaxation training) untuk membawa sesorang sampai keadaan relax pada otot-otot nya. Dalam keadaan seperti itu akan terjadi pengurangan timbulnya reaksi emosi yang menggelora, baik pada susunan syaraf pusat, maupun pada susunan syararaf otonom dapat meningkatkan perasaan segar dan sehat, jasmani dan rohani.

2. PENGEBALAN SISTEMATIK
Pengebalan sistematik diperkenalkan secara resmi oleh Wolpe pada sekitar tahun 1958, namun dasar klinisnya sebenarnya berakar dari penelitian yang dilakukan oleh
MaryCover Jones, pada tahun 1924. Jones meneliti mengenai berkurang nya perasaan takut terhadap kelinci pada anak, dengan cara memberinya makanan yang disukai sambil secara bertahap memperlihatkan kelinci. Dasar ini lah yang kemudian oleh Wolpe dipakai dalam penelitian-penelitian lebih lanjut dan yang ditulis dalam buku-buku nya yang terkenal yakni: Psychotherapi by reciprocal Inhibition, pada tahun 1958.
Pada percobaan lain, Wolpe memberikan makanan pada saat kucing mendengar bunyi sehingga kucing memperlihatkan respon positif terhadap bunyi tersebut. Setelah terjadi proses conditioning, Wolpe mengubah rangsang nya menjadi rangsang kejutan listrik pada waktu mendengar bunyi yang menimbulkan rasa takut pada kucing,Wolpe menamakan keadaan ini sebagai “neurosis eksperimental” dan pada kucing terjadi efek lain yakni menghambat (menghilangkan) keinginan makan.
Wolpe kemudian menggunakan cara “Sistematik” dimulai dari hal yang masih bisa diterima ,tidak menimbulkan kegoncangan atau perasaan takut ,cemas ,kemudian rangsangan nya ditingkatkan secara bertahap ,sampai ke ransang yang seandainya di terima sekaligus , akan menimbulkan reaksi negative.
Wolpe mengatakan hal ini sebagai conditioning yang bertentangan (Counterconditiioning) yakin kalau hal ini dapat terjadi pada hewan percobaan nya, maka hal seperti ini juga dapat terjadi pada manusia.
Sebagai rangsang yang dapat menghambat munculnya perasaan takut pada manusia adalah keadaan relaks, disamping relaksasi Wolpe kemudian memakai tekhnik imajinasi (pembentukan gambaran) untuk mengganti hal-hal yang nyata dan yang terbukti dapat mengurangi ketakutan.

Goldfried & Goldfried [1977] menyarankan pengebalan melalui penguatan diri [self-controlled desensitization], di mana seorang pasien pertama-tama menggambarkan suatu keadaan yang menimbulkan perasaan cemas dan kemudian menggambarkan bagaimana diri sendiri mengatasi keadaan tersebut sampai berhasil. Teknik lain yang masih digolongkan pada tekhnik pengebalan, ialah teknik penjenuhan (extinction), yakni apabila rangasang yang menimbulkan rasa takut atau cemas,diberikan terus-menerus tanpa menimbulkan akibat negative pada respon-responnya. Kecuali terjadi keadaan jenuh yang bisa mengurangi atau menghilangkan rangsang-rangsang yang semula menimbulkan kegoncangan,perasaan takut atau cemas,juga proses pembiasaan [habituation] dapat menimbulkan efek yang sama . Keduanya praktis sama ,perbedaan nya hanya terletak pada penggunaanya secara teknis,yang menurut Levin 7 Gross [1985],pada pengebalan untuk respon terkonditioning [Conditioned response] ,sedangkan embiasaan [habituation] untuk respon tidak tercnditioning [unconditioned response].
Prosedur pelaksanaan teknik tradisional pengebalan sistematik adalah;
1. Melatih atau mengajarkan cara latihan relaksasi progresif.
2. Menyusun factor-faktor secara Hierarkis dari yang paling tidak menimbulkan ketakutan [atau kecemasan] sampai yang paling menimbulkan ketakutan.
3. Menghadapkan factor-faktor tersebut secara Hierarkis sambil membawa pasien atau klien dalam keadaan relaks.

Teknik pengebalan sistematik tidak hanya dipakai untuk menghadapi pasien atau klien yang menderita suatu fobia, tetapi juga efektif untuk penderita ansietas, depresi, obsesi, kompulsif, anorexia nervosa [tidak ingin,tidak mau makan] dan gagap.

3.LATIHAN ASERTIF
Perilaku asertif adalah perilaku antar perorangan (interpersonal) yang melibatkan aspek kejujuran dan keterbukaan pikiran dan perasaan. Perilaku asertif di tandai oleh kesesuaian sosial dan seseorang yang berperilaku asertif mempertimbangkan perasaan dan kesejahteraan orang lain.
Menurut Chistoff & Kelly (1985), ada tiga kategori perilaku asertif yakni:
1. Asertif penolakan.
Ditandai oleh ucapan untuk memperhalus, seperti: maaf !
2. Asertif pujian.
Ditandai oleh kemampuan untuk mengekspresikan perasaan positif seperti menghargai, menyukai, mencintai, mengagumi, memuji dan bersyukur.
3. Asertif permintaan.
Jenis asertif ini terjadi kalau seseorang meminta orang lain melakukan sesuatu yang memungkinkan kebutuhan atau tujuan seseorang tercapai, tanpa tekanan atau paksaan. Dari uraian ini terlihat bahwa perilaku asertif adalah perilaku yang menunjukkan adanya keterampilan untuk bisa menyesuaikan dalam hubungan interpersonal, dalam lingkungan sosial. Sebaliknya, dari perilaku yang tidak asertif ialah misalnya, agresivitas.

Latihan asertif adalah prosedur latihan yang diberikan kepada klien untuk melatih perilaku penyesuaian sosial melalui ekspresi diri dari perasaan, sikap, harapan, pendapat dan haknya. Prosedurnya adalah:
1. Latihan keterampilan, di mana perilaku verbal maupun nonverbal di ajarkan, dilatih, dan diintegrasikan ke dalam rangkaian perilakunya. Teknik untuk melakukan hal ini adalah: peniruan dengan contoh (modelling), umpan balik secara sistematik, tugas pekerjaan rumah, latihan-latihan khusus antara lain melalui permainan.
2. Mengurangi kecemasan, yang diperoleh secara langsung (misalnya, pengebalan) atau tidak langsung, sebagai hasil tambahan dari latihan keterampilan. Teknik untuk melakukan hal ini antara lain dengan pendekatan tradisional untuk pengebalan, baik melalui imajinasi maupun keadaan aktual.
3. Menstruktur kembali aspek kognitif, dimana nilai-nilai, kepercayaan, sikap yang membatasi ekspresi diri pada klien, di ubah oleh pemahaman dan hal-hal yang dicapai dari perilakunya. Teknik untuk melakukan hal ini meliputi penyajian didaktik tentang hak-hak manusia, kondisioning sosial,, uraian nilai-nilai dan pengambilan keputusan. Sebagaimana diketahui, bahwa hambatan untuk mengekspresikan diri pada seseorang, yaitu masyarakat, kebudayaan, umur, jenis kelamin, status sosial-ekonomi, keluarga, perlu diperhatikan karena kaitannya dengan hak-hak pribadi seseorang.

Maters, et al (1987) mengemukakan bahwa teknik yang banyak di gunakan untuk latihan asertif adalah latihan berperilaku (behavioral rehearsal) yaitu melakukan atau melatih sesuatu tindakan yang cocok dan efektif untuk menghadapi kehidupan nyata yang menimbulkan persoalan pada pasien atau klien. Tujuan dari latihan berperilaku asertif, adalah agar seseorang belajar bagaimana mengganti sesuatu respons yang tidak sesuai, dengan respons yang baru, yang sesuai.




4. PENIRUAN MELALUI PENOKOHAN (MODELLING)
Tokoh yang paling menonjol dan telah banyak melakukan penelitian mengenai proses dan prsedur peniruan, adalah Albert Bandura (1969, 1971a, 1971b, 1977,1986), yang antara lain terkenal dengan teori sosial-belajar (sosial-learning theory).
Ada beberapa istilah yang muncul sehubungan dengan prosedur penokohan ini, ialah: penokohan (modelling), peniruan (imitation), dan belajar melalui pengamatan (observational learning). Istilah penokohan merupakan istilah umum untuk menunjukkan terjadinya proses belajar melalui pengamatan dari orang lain dan perubahan yang terjadi karenanya melalui peniruan. Peniruan (imitasi) dalam arti khusus menunjukkan bahwa perilaku orang lain yang diamati, yang ditiru, lebih merupakan peniruan terhadap apa yang dilihat, apa yang dapat di amati dan bukan mengenai perilaku secara umum sebagai tokoh dengan dasar perilakunya.
Pengaruh dari peniruan melalui penokohan (modelling), menurut Bandura ada tiga hal, yakni:
1). Pengambilan respon atau keterampilan baru dan memperlihatkan dalam perilakunya setelah memadukan apa yang diperoleh dari pengamatannya dengan pola perilaku yang baru. Contoh: Keterampilan baru dalam olahraga, dalam hubungan sosial, bahasa atau pada anak dengan penyimpangan perilaku yang tadinya tidak mau berbicara, kemudian lebih banyak berbicara.
2). Hilangnya respons takut setelah melihat tokoh (sebagai model) melakukan sesuatu yang oleh si pengamat menimbulkan perasaan takut, namun pada tokoh yang dilihatnya tidak berakibat apa-apa atau akibatnya bahkan positif. Contoh: Tokoh yang bermain-main dengan dan ternyata ia tidak di gigit.
3). Pengambilan sesuatu respons dari respons-respons yang diperlihatkan oleh tokoh yang memberikan jalan untuk di tiru. Melalui pengamatan terhadap tokoh, seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu yang mungkin sudah diketahui atau dipelajari dan ternyata tidak ada hambatan.
Contoh: Remaja yang berbicara mengenai sesuatu mode pakaian di televisi.



Macam-macam penokohan menurut Corey (1991) adalah:
1). Penokohan yang nyata (live model), misalnya adalah terapis yang dijadikan model oleh pasien atau kliennya, atau guru, anggota keluarga atau tokoh lain yang dikagumi.
2). Penokohan yang simbolik (symbolic model), adalah tokoh yang dilihat melalui film, video atau media lain. Contoh: seseorang penderita neurosis yang melihat tokoh dlam film dapat mengatasi masalahnyadan kemudian ditirunya,
3). Penokohan ganda (multiple model) yang terjadi dalam kelompok. Seorang anggota dari suatu kelompok mengubah sikap dan mempelajari sesuatu sikap baru, setelah mengamati bagaimana anggota-anggota lain dalam kelompoknya bersikap. Ini adalah salah satu dari efek yang diperoleh secara tidak langsung pada seseorang yang mengikuti terapi kelompok.

Teknik peniruan melalui penokohan, dapat dipakai untuk menghadapi pasien atau klien yang menderita fobia, penderita ketergantungan atau kecanduan obat-obatan atau alcohol, bahkan dapat dipakai untuk menghadapi penderita dengan gangguan kepribadian yang berat seperti psikosis, khususnya agar memperoleh keterampilan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

5. PENGUASAAN DIRI (SELF CONTROL)
Melalui pendekatan penguasaan diri, pasien atau klien dimungkinkan memiliki pegangan untuk menghadapi masalah. Pendekatan ini menggunakan dasar proses kondisioning aktif (operant).
Dasar pendekatan ini adalah:
1). Jika kepada seseorang diberikan peran yang lebih aktif dalam proses perubahan, akan lebih mudah mencapai tujuan.
2). Pasien atau klien dapat mempergunakan keterampilan dan teknik mengurus diri untuk menghadapi masalah, yang dalam terapi tidak secara langsung diperoleh.
3). Perubahan yang diperoleh harus benar-benar mantap dan tidak berubah jika pasien atau klien menghendaki perubahan.
Masalah-masalah pada penguasaan diri, menurut Kanfer&Phillips (1970) ada dua kategori, yakni:
1). Pasien atau klien terlibat dalam pola perilaku yang merugikan (merusak) diri sendiri seperti misalnya orang yang terlalu lahap makan, berlebihan dalam merokok, meminum minuman keras atau ketergantungan pada obat-obatan dan perilaku seks yang berlebihan.
2). Pasien atau klien menderita, karena terlalu sedikit memperlihatkan perilaku yang sesuai, misalnya masalah belajar pada pelajar, jarang membantu orang lain, gagal untuk memprakarsai kontak sosial dan seksualitas yang pasif.
Dalam melaksanakan teknik penguasaan diri, terapis membantu pasien atau klien menyusun rencana yang meliputi pemantauan diri (self monitoring), penilaian diri (self evaluation), penguatan diri (self reinforcement) dan sasaran perilaku (target behavior).
Mengenai penguasaan diri ini, Corey (1991) mempergunakan istilah mengatur diri (self management) yang meliputi pemantauan diri (self monitoring), memberi hadiah terhadap diri sendiri (self reward), kontrak atau perjanjian dengan diri sendiri (self contracting) dan penguasaan terhadap rangsang (stimulus control).

KASUS
Reaksi fobia merupakan reaksi ketakutan yang bersifat irasional terhadap obyek atau situasi tertentu,yang secara faktual obyek atau situasi tersebut tidak membahayakan dan tidak menakutkan.

Pada umumnya setiap orang memiliki ketakutan irasional minor, tetapi pada penderita fobia ketakutan yang dialami sangat intens dan mengganggu aktivitas keseharian mereka. Seperti Ny D, sebenarnya ia memerlukan sesuatu untuk dibeli bagi keperluan rumah tangganya, namun oleh sebab ketakutannya tersebut ia memutuskan untuk cepat pulang ke rumah. Bila ia memaksakan diri maka rangkaian gejala fisik yang mengganggu akan memanifestasi, seperti keluar keringat dingin, gemetar kaki dan tangannya, serta debaran jantung yang sangat keras, yang kemudian akan diikuti serangan sakit kepala, sakit punggung bahkan sakit perut.

Ny D, tampaknya perkembangan fobia padanya terkait dengan pengalaman traumatik pada saat terjadi kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Saat itu Ny D sedang berbelanja di salah satu toko swalayan yang menjadi sasaran agresivitas massa. Ny D benar-benar panik dan ia berpikir bahwa hanya berkat Tuhan yang Maha Kuasa yang membuat dirinya dapat keluar dari arena kerusuhan tersebut. Jadi situasi traumatik tersebutlah yang menjadi sumber berkembangnya fobia sosial pada Ny D.
Hubungahan teori dan kasus
Terapi untuk penderita sangat tergantung dari pola dinamika yang mendasari perkembangan keluhan fobia.Bila fobia disebabkan pengalaman traumatis, maka terapi diberikan dengan program relaksasi dan desensitisasi yang sistematik dan re-edukasi. Artinya, dengan program ini pasien diharapkan dapat menurunkan tingkat sensitivitas terhadap obyek yang ditakuti secara bertahap.
Dalam hal ini Ny D diminta berusaha untuk tenang dalam suasana emosi yang cukup tenang, kemudian Ny D diajak menghadiri pertemuan sosial beberapa kali dengan kelompok orang yang secara bertahap jumlahnya semakin besar.
Pada mulanya didampingi untuk kemudian secara bertahap dilepas sendiri. Pelatihan yang diterapkan pada Ny D direncanakan secara matang, berdasar pada teknik desensitisasi yang terprogram. Setiap Ny D berhasil mengatasi ketakutan akan pertemuan dengan sekelompok orang dalam jumlah tertentu, dengan sendirinya akan berpengaruh terhadap peningkatan kepercayaan diri Ny D. Demikian seterusnya, dan seterusnya, sampai akhirnya Ny D mampu untuk berada dalam kerumunan orang tanpa disertai reaksi fobianya.Yang lebih tepat adalah bila seseorang mengalami situasi traumatik hendaknya diupayakan diatasi dengan baik sebelum berkembang menjadi reaksi fobia.

Upaya preventif tentu saja lebih baik daripada upaya kuratif.Manakala reaksi fobia tertuju pada kehadiran obyek simbolik dari ketakutan dan kecemasan intrapsikis yang diintegrasikan dengan ketakutan terhadap obyek eksternal tertentu yang dihadapi penderita, kondisi tersebut berarti suatu pengembangan dari fungsi kepribadian yang mengalami gangguan serius. Dalam kasus tersebut penderita biasanya bersikap pasif dan submisif terhadap keluhannya dan tidak berupaya keras untuk sungguh-sungguh mengatasi permasalahannya. Untuk penderita fobia jenis ini dibutuhkan penanganan

apakah stress itu?

Diposkan oleh inez

Menurut Dr. Hans Selye, stres adalah respons umum terhadap adanya tuntutan pada tubuh. Tuntutan tersebut adalah keharusan untuk menyesuaikan diri, dan karenanya keseimbangan tubuh terganggu.
Manusia membutuhkan stres untuk bisa berfungsi normal. Anggaplah stres sebagai suatu tantangan, tanpa itu manusia tidak akan tergerak untuk melakukan sesuatu. Seberapa besar stres yang dibutuhkan? Mari kita lihat gambar berikut.




Mula-mula, sejalan dengan meningkatnya stres, meningkat pula kinerja manusia sampai suatu titik tertentu. Pada saat ini kita tidak menganggap diri kita dalam keadaan stres, melainkan dalam keadaan bersemangat, bergairah, atau penuh dorongan. Namun, lewat titik tersebut, tambahan stres akan membuat kinerja kita menurun dan mengurangi kemampuan untuk mengatasinya (coping). Sebagian besar dari kita mempunyai rentang stres yang optimal atau "Daerah Nyaman" (Comfort Zone) yang membuat kita merasa nyaman dan berfungsi baik. Jika kita melampaui daerah nyaman, timbul rasa lelah yang merupakan tanda untuk mengurangi tingkat stres kita. Jika hal itu tidak dilakukan, maka kita menjadi kehabisan tenaga, sakit, dan akhirnya ambruk (breakdown).

Tanda-tanda Stres
Manusia bereaksi seutuhnya, artinya terdapat gejala-gejala fisik maupun psikis yang dapat dibagi sebagai berikut.
• Gejala Fisik: merasa lelah, insomnia, nyeri kepala, otot kaku dan tegang (terutama leher/tengkuk, bahu, dan punggung bawah), berdebar-debar, nyeri dada, napas pendek, gangguan lambung dan pencernaan, mual, gemetar, tangan dan kaki merasa dingin, wajah terasa panas, berkeringat, sering flu, dan menstruasi terganggu.

Karena gejala fisik ini mungkin ada kaitannya dengan penyakit fisik, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan bahwa gejala fisik tersebut disebabkan oleh stres.
• Gejala Mental: berkurangnya konsentrasi dan daya ingat, ragu-ragu, bingung, pikiran penuh atau kosong, kehilangan rasa humor.
• Gejala Emosi: cemas (pada berbagai situasi), depresi, putus asa, mudah marah, ketakutan, frustrasi, tiba-tiba menangis, fobia, rendah diri, merasa tak berdaya, menarik diri dari pergaulan, dan menghindari kegiatan yang sebelumnya disenangi.
• Gejala Perilaku: mondar-mandir, gelisah, menggigit kuku, menggerak-gerakkan anggota badan atau jari-jari, perubahan pola makan, merokok, minum minuman keras, menangis, berteriak, mengumpat, bahkan melempar barang atau memukul.
Belajar untuk mewaspadai tanda-tanda stres Anda merupakan langkah pertama untuk manajemen stres dan proses penyembuhan.

Apa saja yang dapat menjadi sumber stres?
Penyebab stres kadang kala mudah untuk dideteksi, tetapi ada yang sulit untuk diketahui. Ada yang mudah untuk dihilangkan, ada yang sulit atau bahkan tidak bisa dihindari. Tiga sumber utama adalah: lingkungan, badan, dan pikiran.
Lingkungan selalu membuat kita harus memenuhi tuntutan dan tantangan, karenanya merupakan sumber stres yang potensial. Kita mengalami bencana alam, cuaca buruk, kemacetan lalu-lintas, dikejar waktu, masalah pekerjaan, rumah tangga, dan hubungan antar manusia. Juga kita dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi keuangan, pindah kerja, atau kehilangan orang yang kita cintai.
Sumber stres kedua adalah tuntutan dari tubuh kita untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan faali yang terjadi. Contohnya: perubahan yang terjadi waktu remaja, perubahan fase kehidupan akibat fluktuasi hormon dan proses penuaan. Selain itu, datangnya penyakit, makanan yang tidak sehat, kurang tidur dan olah raga akan mempengaruhi respons terhadap stres.
Potensi stres utama juga datang dari pikiran kita yang terus-menerus menginterpretasikan isyarat-isyarat dari lingkungan. Interpretasi kita terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi menentukan apakah kita stres atau tidak. Apakah kita melihat gelas yang berisi air separuhnya sebagai setengah penuh atau setengah kosong? Pikiran-pikiran yang menyebabkan stres sering bersifat negatif, penuh kegagalan, katastrofik, hitam-putih, terlalu digeneralisasi, tidak berdasarkan fakta yang cukup, dan terlalu dianggap pribadi.

Akibat apa yang dapat timbul dari stres yang tidak ditangani?
Saat kita mempersepsikan sesuatu sebagai stres, bagian otak yang menangani pikiran mengirimkan sinyal ke sistem saraf melalui hipotalamus. Sistem saraf lalu mempersiapkan tubuh untuk menghadapi stres tersebut. Terjadi perubahan detak jantung dan tekanan darah, serta pupil melebar. Juga ada hormon dan zat-zat kimia yang dikeluarkan/disekresi, seperti adrenalin. Sekresi adrenalin ini yang membuat tubuh siap, namun jika terjadi berkepanjangan akan menimbulkan kerugian misalnya terhambatnya pertumbuhan dan pemulihan tubuh, pencernaan dan reaksi kekebalan tubuh (imunologik).
Akibat fisik. Dapat terjadi penyakit terkait stres; sebagai contoh penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) akibat meningkatnya tekanan darah yang merusakkan jantung dan pembuluh darah (arteri) serta meningkatnya kadar gula darah. Di paru dapat terjadi asma dan bronkhitis (radang saluran napas). Jika terjadi hambatan fungsi pencernaan, dapat timbul penyakit seperti tukak/ulkus, kolitis (radang usus besar) dan diare kronik (menahun). Stres juga berperan dalam menghambat pertumbuhan jaringan dan tulang yang akan menyebabkan dekalsifikasi (berkurangnya kalsium) dan osteoporosis (tulang keropos). Sistem kekebalan tergangggu melalui berkurangnya kerja sel darah putih, sehingga badan menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Akibat lain adalah meningkatnya ketegangan otot, kelelahan dan sakit kepala.
Akibat emosional. Karena pelepasan dan kekurangan norepinefrin (noradrenalin) yang kronis dapat terjadi depresi. Yang juga berperan adalah pikiran bahwa hidup ini buruk dan tidak akan menjadi lebih baik. Akibatnya timbul perasaan tak berdaya dan ketakmampuan, merasa gagal dan kepercayaan diri jatuh. Orang yang terkena depresi cenderung menarik diri dari pergaulan dan menyendiri yang pada gilirnnya malah menambah depresinya. Juga anxietas (kecemasan yang berlebihan) dan ketakutan sangat sering terjadi jika seseorang terus-menerus mempersepsikan adanya ancaman. Orang yang stres berkepanjangan akan menunjukkan sisnisme, kekakuan pendirian, sarkasme, dan iritabilitas (mudah tersinggung).
Akibat pada perilaku. Sering terjadi perubahan perilaku akibat dorongan untuk mencari pelepasan; bertempur atau lari. Masalahnya, perilaku yang dipilih sering merugikan, misalnya "perilaku adiktif" (kecanduan) akibat usaha untuk meredakan atau melarikan diri dari stres yang menyakitkan. Alkohol, obat-obatan, merokok, dan makan berlebihan sering dijadikan alat untuk membantu menghadapi stres. Padahal efeknya hanya berlangsung sementara dan akibat penggunaan jangka panjang akan merusak badan dan pikiran atau jiwa. Sayangnya, pikiran dapat menolak/menyangkal akibat jangka panjang itu untuk sekadar memenuhi kepuasan sesaat. Perilaku lainnya yang terlihat adalah menunda-nunda, perencanaan yang buruk, tidur berlebihan dan menghindari tanggung jawab. Taktik ini malah merugikan karena menimbulkan masalah baru bagi individu tersebut.