ASAL USUL MANUSIA DI PANDANG DARI SEGI AGAMA ISLAM

Diposkan oleh inez

Apakah sesungguhnya pandangan Islam tentang manusia? Dalam Islam manusia bukan sekedar binatang menyusui yang hanya makan,minum dan berhubungan seks, bukan juga hanya “a thinking animal”, tetapi dari itu, ia memiliki potensial pada dan dalam dirinya yang menjadikannya dalam bahasa al-Qur’an unik, berbeda dari yang lain. Pandangan Islam mengenai kehidupan manusia di bumi ini amatlah menyeluruh (comprehensive) dalam artian bahwa kehidupan di dunia ini merupakan sebagian dari kehidupan di akhirat. Tindakan di dunia akan mempengaruhi kehidupannya di akhirat. Dalam Islam manusia merupakan khalifah Allah di muka bumi yang dibekali dengan berbagai hak, dan dibebani dengan berbagai kewajiban. Juga dalam Islam, manusia merupakan makhluk yang terdiri dari ruh atau jiwa dan raga. Manusia menurut Islam, merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang diberi ruh Ilahi dan dibuat dari mani. Kata ruh adalah soul dalam bahasa Inggris yang juga sama dengan jiwa.
Bahkan, berbagai ayat dalam kitab suci umat Islam mengungkapkan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan yang seimbang antara dunia dan akhirat, yakni keseimbangan kebahagiaan spiritual dan material sebagaimana yang sering diucapkan umat Islam dalam berdoa: “Ya Tuhan berikanlah aku kebahagian dunia dan juga kebahagiaan akhirat dan jauhkanlah aku dari api neraka”. Ayat di atas dan doa tersebut menunjukkan bahwa dalam Islam manusia itu terdiri dari ruh dan kebahagiaan ruh ini tercapai melalui ibadah. Manusia juga dalam Islam percaya mengenai apa yang tidak terlihat dengan indera penglihatan. Dengan kata lain, manusia Islam menyakini adanya kehidupan di akhirat. Ini merupakan keyakinan mereka bahwa ada kehidupan spiritual di akhir zaman. Terlalu banyak kiranya ayat-ayat dalam kitab suci al-Qur’an dimana Tuhan berfirman mengenai kejadian & asal usul manusia dari jiwa dan raga,antara lain:
• Surah ke-23, al-Mu’minun ayat 12-15 yang terjemahannya sebagai berikut:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) tanah.”(ayat 12)
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (ayat 13)
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk lain). Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”(ayat 14)
“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu benar-benar akan mati.”(ayat 15)
• Surah ke-32 al-Sajdah ayat 7-9 yang terjemahannya sebagai berikut:
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.”(ayat 7)
“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).”(ayat 8)
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) kamu sedikit yang bersyukur.”(ayat 9)
• Surah ke-37 al-Shaffat ayat 11 yang terjemahannya sebagai berikut:
“.....Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.”
• Surah ke-17 al-Isra ayat 85 yang terjemahnya sebagai berikut:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhan-Ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
• Surah ke-76 al-Insan ayat 72 yang terjemahannya sebagai berikut:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur (antara benih laki-laki dengan perempuan) yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”
• Surah ke-86 al-Thariq ayat 5-7 yang terjemahannya sebagai berikut:
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan?”(ayat 5)
“Dia diciptakan dari air yang terpancar.”(ayat 6)
“Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”(ayat 7)
Kehidupan manusia di alam ini diawali dengan tidak ada,kemudian ada (lahir) dan terakhir tidak ada lagi (mati) (lihat al-Qur’an surah ke-7 al-A’raf ayat 25). Mengenai lamanya hidup manusia didunia tidak perlu kita perbincangkan di sini,sebab sulit untuk memberikan jawaban yang pasti tentang hal tersebut.
Dapat dikemukakan bahwa filsafat Islam pada umumnya, memandang manusia terdiri dari dua substansi yang bersifat materi (badan) dan substansi yang bersifat immateri (jiwa) dan hakikat dari manusia adalah substansi immaterialnya seperti ditulis oleh Imam al-Ghazali mengemukakan bahwa essensi manusia adalah jiwanya:
“Adanya jiwa dalam dirinya membuat manusia itu menjadi ciptaan Tuhan yang unggul. Dengan jiwa itu pula manusia dapat mengenal Tuhannya dan sifat-sifatNya bukan dengan organ tubuh lainnya. Dengan jiwa itu jualah, manusia dapat mendekatkan diri dengan tuhan dan berusaha mewujudkan. Jadi, jiwa adalah raja dalam diri manusia dan anggota tubuh lainnya adalah unsur-unsur yang melaksanakan perintah tuhan. Jiwa itu diterima oleh tuhan apabila dia tetap bebas dari hal-hal selain dari tuhan. Apabila ia terikat pada hal-hal yang bukan dengan tuhan, dia telah menjauh darinya. Jiwa manusialah yang akan dipertanyakan dan disiksa.
Hal ini dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dan juga dikutip oleh Dr. Muhammad Nasir Nasution dalam bukunya, ”Manusia menurut al-Ghazali”. Ulasan al-Ghazali juga mengungkapkan bahwa akal bukanlah daya yang terpenting dalam kehidupan keberagamaan manusia karena usaha penyempurnaan dan iman diri bukanlah proses intelektual melainkan penajaman dari daya intuisi dan emosi. Yang penting adalah menjaga keseimbangan antara daya-daya tersebut. Mungkin yang dimaksud disini ialah apabila seseorang mempertajam atau meningkatkan daya fisiknya, sebaiknya juga ia menambah daya nalar dan imannya sehingga dia menjadi manusia yang utuh”.
Esensi manusia atau jiwanya, masih dalam ulasan al-Ghazali merupakan unsur immaterial yang berdiri sendiri dan juga adalah subjek yang mengetahui disebut juga subjek yang sadar. Al-Ghazali memberi contoh bagai seorang manusia yang menghentikan kegiatannya, masih tetap sadar walaupun dia berada dalam keadaan tenang dan tidak berbuat apapun. Maka aktifitas fisiknya menghilang tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang tidak hilang, yaitu kesadaran akan dirinya. Dia sadar bahwa ia ada; bahkan ia sadar bahwa ia sadar. Inilah yang dapat dipahami dari istilah,” Subjek yang mengetahui ”. Manusia sadar dan mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk dan ia mampu mengoreksi semua unsur-unsur tersebut, apabila ia berbuat salah, unsur jiwa dalam dirinya akan menyadarkannya karena ia adalah subjek yang mengetahui.
Substansi immaterial atau jiwa itu juga disebut al-nafs dalam islam. Imam Ghazali menguraikan al-nafs atau nafsu sebagai berikut: “Makna pertama ialah “hasrat:” atau diri yang rendah. Hasrat merupakan kata yang menyeluruh yang terdiri dari ketama’an, amarah dan unsur-unsur keji lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda,” Musuh anda yang terbesar adalah nafsu anda yang terletak dikedua belah sisi anda”. Makna kedua dari Nafs adalah jiwa seperti dijelakan terdahulu. Apabila nafsu menjadi tenang dan telah bebas dari amarah dan birahi dia disebut nafsu Mutmainah atau jiwa yang tenang dan aman, seperti difirmankan oleh Allah SWT,” O..jiwa yang tenang, kembalilah ketuhanmu dengan tenang dan menenangkannya (89-27)”. Dalam ma’na yang pertama nafsu bersekutu dengan setan. Apabila nafsu sudah tidak tenang dia tidak akan sempurna; ia disebut nafsu Lawamah atau jiwa yang ternoda dan jiwa yang demikian mengabaikan tugas-tugas ilahinya. Apabila jiwa menyerahkan diri kepada setan, ia disebut nafsu Ammarah atau nafsu yang dikuasai setan”.
Al-nafs mempunyai daya-daya dan daya berfikir terkandung didalamnya. Kesempurnaan manusia diperoleh dengan jalan mempertajam daya berfikir ini.
Bila kita bandingkan pandangan al-Ghazali dan Koentjaraningrat mengenai manusia, maka terlihat kesamaan yang dalam. Tentu Koentjaraningrat tidak mengatakan rujukannya adalah al-Ghazali atau al-Qur’an dan Hadits. Istilah yang digunakan oleh Koentjara ningrat adalah kepribadia individu. Kepribadian, menurut Koentjaratningrat, dalam bukunya: Pengantar Antropologi 1, adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seorang individu yang berada pada setiap individu (Koentjaraningrat 1996, hlm. 99 ). Dalam buku yagn sama Koentjaraningrat juga menguraikan bahwa ada beberapa unsur dalam kepribadian. Kalau al-Ghazali mengemukakan bahwa manusia memili beragam daya, yakni daya fikir, daya fisik, daya rasa dan daya moral. Maka Koentjaraningrat, Abraham Marslow, Kelvin S. Hall dan Gardner Lindsay menyebut daya-daya tersebut sebagai unsur-unsur akal dan jiwa yang melangkapi kepribadian manusia, seperti unsur pengetahuan, unsur perasaan, unsur motivasi. Hanya istilah yang berbeda; al-Ghazali menggunakan perkataan “daya” atau “al-nafs” sedangkan berbagai pakar dari timur dan barat tersebut terdahulu menyebutnya sebagai unsur-unsur dalam diri manusia.

1 komentar:

Nanang Kentang mengatakan...

matur suwun njeh

Poskan Komentar